
Lihat di bawah kaki kami banyak sampah. Gedung di belakang kami sedang tak beratap.
Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam ingin tampil sedikit muda dari usianya ternyata, tp bukan bentengnya melainkan bangunan dalam benteng. Seperti manusia pada umumnya yang senang merawat tubuh dan wajah agar tampak cantik atau tampan dan lebih dari itu, ada passion jika bisa tampil awet muda (buat yang sudah tidak muda lagi dari segi usia).
Benteng peninggalan Zaman Belanda ini merupakan benteng hasil perebutan dari kerajaan Gowa pada tahun 1660-an. Awalnya, Benteng ini bernama Benteng Ujung Pandang didirikan raja Gowa X pada tahun 1554, bangunannya terbuat dari tanah liat yang dibakar dan dikeringkan. Namun oleh raja Gowa XIV dipugar dan bangunannya diganti batu padas. Tapi sejak diambil alih Belanda pada tahun 1667 melalui perjanjian Bongaya benteng dipugar disesuaikan gaya bangunan Belanda dan namanya diubah menjadi Fort Rotterdam oleh gubernur VOC Cornelis Speelman terinspirasi dari nama tempat kelahirannya di Negeri Belanda (wisatamakassar.com). Sampai saat kembali menjadi bagian Bangsa Indonenesia dan dirawat oleh pemerintah Kota Makassar, Fort Rotterdam entah untuk yang keberapa kalinya dipercantik.
Hem.. Sepertinya bangunan dalam benteng yang merupakan satu kesatuan benteng, tak ingin terus-terusan tampak tua, lusuh dan terlihat lelah karena menyimpan banyak beban kisah sejak ratusan tahun silam. Ia juga tak ingin orang-orang menganggap suram sosoknya karena telah mengarungi beberapa abad. Maka mungkin demi kenyaman pengunjung, beberapa bagian bangunan yang tampak sudah rewot diperbaharui. Meski atap dan jendela diganti, dinding-dinding yang mulai rapuh dikokohkan kembali, semoga tak mengurangi nilai historis sang bangunan. Tapi saya pribadi agak-agak sedih sebenarnya, soalnya saya sangat senang melihat bangunan tua, semakin berumur dan tampak suram suatu bangunan, semakin jatuh hati saya terhadapnya ketika memandanginya.
Meski sedang dalam masa perbaikan, areal benteng tetap dibuka. Pengunjungnya tetap ramai apalagi saat akhir pekan. Benteng Rotterdam memang selalu berhasil jadi magnet wisata, menyedot pengunjung untuk sekedar berjalan-jalan, datang melihat-lihat ke dalam museum atau menjadi tempat bagi beberapa komunitas menggunakan salah satu bangunannya sebagai tempat pertemuan.
Manusia datang silih berganti menorehkan sejarahnya bersama sang kokoh yang dalam diam bermunajat, semoga ia akan terus dicintai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar