...Dream and Action...

...dream and action...

Senin, 20 September 2010

Perutku berdawai sepanjang dawai2asmara


Kawan mengajakku nonton di bioskop 21 Mall Panakukang. Tadinya kawanku ini ingin menyaksikan film 'Sang Pencerah', film yang mengangkat kisah Kiai Ahmad Dahlan pendiri organisasi Muhammadiyah dari kaca mata Hanung Bramantyo, tapi karena saya sudah menontonnya minggu lalu maka dua orang kawanku Amel dan Aulia mengalah untuk memilih film lain tuk ditonton. Padahal tadinya saya sudah sepakat untuk nonton Sang Pencerah lagi. Sampai di ruang 'twenty one', tiba-tiba Amel berubah pikiran. Setelah melihat-lihat poster-poster film dalam bingkai kaca yang tertempel di dinding ruangan. Pilihan kemudian jatuh pada film berjudul... 'Dawai2Asmara'. Empat studio semuanya menayangkan film Indonesia. Saya menyarankan nonton Darah Garuda, namun menurut Aulia, film perang Indonesia agak kasar. Padahal sebenarnya Darah Garuda yang merupakan sekuel kedua dari trilogi Merah Putih adalah film perang bergaya hollywood. Asisten sutradara sampai kru special effects adalah para veteran film hollywood, masih sama seperti pada film Merah Putih I. Tak ingin berdebat dan tanpa pikir panjang film yang tayang di studio 3 jadi pilihan. Kami semua sepakat sedang ingin merubah sementara pakem atau genre film kita. Menonton film Indonesia di bioskop agak merugikan sebenarnya. Karena tidak akan lama lagi pasti akan ditayangkan di televisi. Ah mungkin saja salah satu pemain di film itu memang idola Amel, hahaha... Daripada nonton yang di studio 4 'dilihat boleh dipegang jangan' Persik.. Persik... Cuman bisa jual tubuh doang!

16.35 masuklah kami ke dalam studio. Sepi sekali, kurang dari sepuluh deret kursi yang terisi dan tak ada satu deretanpun yang terisi penuh. Kami duduk di barisan ke tiga dari atas. Kami mulai menebak-nebak kira-kira opening film ini apa yah? Apakah benda itu lagi?..... Betul saja, pembukaan film itu menyorot suatu benda bernama 'gitar'.... Dan tentu saja segera dilanjutkan adegan sang raja, yah.. Sang raja, raja Dangdut si Oma janggutan bernyanyi di belakang microphone menggendong gitar dan diiringi pemain-pemain alat musik lain dan beberapa backing vocal wanita yang bergabung dalam grup Soneta. ''terlalu... sungguh terlalu!''
Kami semua serempak tertawa 'ngakak'... Ya Tuhan.., Oma..Oma.. (Tanpa RH*Raden Haji*) kita semua tahu kamu main di film ini dan jadi producernya. Tapi, tak bisakah engkau hadir di tengah-tengah film? Mengapa harus dirimu yang bernyanyi penuh satu lagu barumu berjudul AZZA yang jadi pembuka?
Yang pemeran utama siapa sih?

Film ini menceritakan dua topik. Pertama cerita cinta Ridho dan tentang revolusi musik dangdut. Tema pokoknya mungkin revolusi dangdut, kisah cinta Ridho hanyalah bumbu adegan. Lihat saja bagaimana Rhoma Irama terlalu sering hadir dari awal film. Setelah ia bernyanyi satu lagu di awal tadi, kamera kemudian menyorot gadis bernama Haura asal Australia yang tertarik dengan musik dangdut dan ingin mendalaminya dengan mengadakan sebuah riset. Setelah itu kembali ke rhoma yang sedang bermain piano sambil bernyanyi di depan lukisan dirinya yang terpajang di dinding memakai sorban dan syal di atas seekor kuda yang kedua kaki depannya terangkat ke atas, lukisan ini di close up. Betapa narsisnya dirimu pak haji! Barulah setelah itu muncul ridho yang baru pulang dari Amerika karena panggilan sang ayah. Ia memerankan jadi anak rhoma seperti di kehidupan nyata. Lagi-lagi rhoma muncul dengan adegan berkuda. Sepertinya film ini tidak ingin terlalu banyak berfiksi. Yang fiksi di film ini hanya kisah asmara ridho dengan Thufa si promotor musik yang diperankan cathy sharon. Thufa dihadapkan pada dua pilihan, laki-laki yang memberinya kepastian dan laki-laki yang bimbang. Delon penyanyi pop yang memberinya kepastian dengan niat melamarnya. Dan Ridho penyanyi dangdut teman masa smp yang tak pasti namun ia mencintainya sejak dulu.

Film ini sangat jelas menggambarkan seorang Rhoma yang ingin agar anaknya si ridho kembali ke Indonesia dengan tujuan membangkitkan lagi musik dangdut yang terpuruk dan dikalahkan oleh aliran musik pop. Dalam film adegannya rhoma sedang berbicara empat mata dengan anaknya. Aksen khas dan gaya bicara rhoma irama yang sangat kita kenali membuat saya, amel dan aulia geli, tertawa terpingkal-pingkal. Entah kenapa? Lucu rasanya. Rhoma mengusulkan ridho bernyanyi dengan formasi ala band, seperti yang sedang marak sekarang. Tapi dangdut adalah jiwa musiknya. Dangdut yang condong ke musik India. Menurut rhoma itu adalah sebuah langkah revolusi. Seperti yang pernah ia lakukan di sekitar tahun 70-an. Betulkah itu memang sebuah revolusi? Revolusi sendiri menghendaki suatu upaya untuk merobohkan, menjebol dan membangun dari sistem lama kepada sistem yg sama sekali baru (wikipedia.org)
Nampak jelas rhoma masih sangat dominan. Band anaknya masih bernama Soneta ditambah angka 2 sebagai tanda lahirnya soneta baru, jadi soneta2 (sonetatwo) mirip nama grupnya. Lagu-lagu yang dibawakan sonetha2 lebih banyak menggunakan lagu rhoma irama yang diaransemen ulang. Hmm... ??? Revolusi?

Rhoma irama memang tak ingin benar-benar terlupakan, bahkan di film inipun ia masih saja jadi tokoh sentral (aulia), ckckck... Beberapa potongan gambar seperti ingin menampilkan kehidupan nyata sang raja.seperti rhoma yang sedang latihan di studio bersama anggota grup sonetanya ''...seribu satu macam...'' meng close up foto-foto dirinya semasa muda, penghargaan_penghargaan yang diraihnya, serta adegan rhoma sedang melatih ridho dasar-dasar teknik bela diri dan rhoma yang senang memegang tasbih. Yang paling membuat kami semua tak berhenti tertawa adalah saat akhir-akhir film, dimana ridho sedang dilanda kesedihan karena ditinggal Thufa saat ia belum menyatakan perasaannya. Di dalam kamarnya ia sedang memandangi foto thufa yang diletakkan di meja dan di belakangnya tertata deretan buku dan Al-qur'an. Di film ini Rhido digambarkan pemuda yang shaleh, rajin sembahyang dan puasa. Saat ia sedang memegang dan memandangi foto thufa datanglah sang ayah. Oma: ''dia kekasihmu? Jika kamu mencintainya, kamu harus berani mengatakan cinta" kurang lebih seperti itu. Tiba-tiba seorang penonton dengan lantang 'nyeletuk' "lihat ayah!" huakakak..... ???

Akhir film ditutup dengan adegan yang sangat simbolik. Rhoma berdiri di belakang sebuah kursi besar nan empuk menonton penampilan anaknya dari televisi. Ia tersenyum bangga, dan ikut berjoget sambil memegang tasbih. ???

Terima kasih atas tontonan yang lucu dan konyol hari ini, betul-betul membuat kami puas tertawa. Perut kami mules ikut berdawai sepanjang film dawai2asmara.

Tidak ada komentar: