...Dream and Action...

...dream and action...

Minggu, 15 Agustus 2010

Packing

75% sudah barang-barang di pack, dimasukkan ke dalam kardus, direkatkan menggunakan lakban. Tidak terasa sisa seminggu lebih kami di sini. Di Gunung Bais estate. Tapi kenapa saya merasa sedih ya? Padahal saya hanya dua bulan di sini, saya tidak punya keterikatan bathin dengan kampung ini, dengan orang-orangnya apa lagi. Karena selama saya di sini, saya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, tak bersosialisasi dengan penduduk setempat. Tapi sempat ikut pengajian dua kali dan acara isra mi'raj. Tapi tidak ada kenalan baru. Hanya kenalan dengan ibu-ibu teman ibu. Memang di kampung ini yang masih cewek atau remaja kurang. Yang umurnya di bawah umurku saja sudah pada menikah. Banyak juga yang bersekolah di kota. Satu-satunya yang lumayan ku kenal adalah Ika. Dia lebih muda 7 tahun dari saya tapi badannya jauh jauh lebih besar dari saya. Jika bersekolah seharusnya ia sudah masuk sma. Tapi ia memilih tidak bersekolah dengan alasan badannya terlalu besar untuk ukuran seorang siswi smp kala itu. Hah ada-ada saja. Saya mengenal ika karena dia bekerja di rumah membantu ibu. Tapi itupun kami jarang terlibat komunikasi. Saya yang hanya asyik di kamar dan dia yang sibuk di dapur bersama ibu.

Kembali, mengapa ada rasa sedih hendak pergi dari perkebunan ini? Mungkin memang wajar, ku sadari atau tanpa ku sadari 2 bulan di daerah ini pastilah menorehkan bekas di hati, menancapkan memory di otak. Tapi saya selalu sok ingin masuk dan menyalami perasaan bapak dan ibu. Terutama bapak yang akan pensiun. Bapak akan menjadi warga negara biasa, status sosialnya akan sedikit turun karena tidak menyandang peran lagi. Hubungan rantai sosial antara rekan-rekan kerja yang sudah dibina akan putus. Apakah bapak akan sedih dengan hal itu? Apakah bapak akan terkena 'post power syndrome'? Sindrome yang biasa diderita oleh seseorang yang kehilangan jabatan atau kekuasaan. Sejenak ku hentikan kegiatan mengetik huruf-huruf ini dan memperhatikan bapak.
Hem... Sepertinya bapak tidak sedih. Ia malah senang. Karena ia akan pulang ke kampung yang bukan tanah kelahirannya. Kampung rantauan tempat di mana sebagian sejarah hidupnya ia torehkan. Bapak merindukan dan menantikan berjumpa cucu pertama satu-satunya saat ini. Badia zalma harahap.
Bapak bukan sosok yang mementingkan kedudukan, sehingga saya yakin bapak jauh dari sindrome hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya. Menjadi wirausahawan adalah lebih baik ketimbang menggantungkan hidup pada para pemilik modal raksasa.

Melupakan kesedihan dan melanjutkan packing2. Eh tiba-tiba saya menemukan satu tas berisi kaset-kaset radio diantaranya yang menyita perhatianku adalah kaset the beatles dengan harga yang tertera di covernya Rp. 4500,- ada elvis presley, jimm reever, matt monro, abba, the pussy cat, 2 album frank sinatra, dan masih banyak lagi. Kaset-kaset ini adalah soundtrack masa kecilku dulu, berirama mengiringi setiap langkah mungilku. Hmm...jadi ingin bernostalgia! Maka setelah membersihkan sedikit kaset yang agak berdebu akibat telah bertahun-tahun tersimpan tak pernah dimainkan, ku putarlah kaset yang melantunkan suara frank sinatra, mengalunlah my way, moonriver, something stupid, i get kick out of you, fly me to the moon..and many more...

Fly me to the moon let me play among those stars. Let me see what spring is like on a jupiter and mars. In other words hold my hand..in other words baby kiss me.
Fill my heart with song and let me sing forever more. You are all i long for all i worship and adore. In other words please b true..in other words i love you......

Tidak ada komentar: