Tadi sewaktu dalam perjalanan hendak ke pasar *dalam mobil*, dalam ketermenungan, menghayati sekeliling yang hijau oleh pepohonan sawit, jati, kelapa, jalan tanah merah yang becek, lembek, licin bak kue agar-agar akibat hujan semalam, tiba-tiba angan terbawa ke masa-masa waktu masih seorang mahasiswa baru. Entah angin apa yang membawa saya seketika terbang terkenang kebersamaan saya dengan seorang teman bernama icha. Seperti ketidaktahuan apa yang mengilhami khayalan sampai pada mengenang icha begitu juga awal mula pertemanan kami, apa, mengapa, kapan dan di mana keakraban diantara kami mulai terjalin aku lupa momennya. Tolong ingatkan aku..!
Kalau pertanyaan di mana? Jawabannya pasti adalah kampus unhas terkasih adalah yang mempertemukan kami, tepatnya di program studi serupa yang kami pilih. Tapi peristiwa apa yang menjalin kami? Karena saya baru mengenal icha ketika perkuliahan perdana baru berjalan. Saya tidak pernah terkontak dengan dia ketika pendaftaran ulang maupun ketika ospek berlangsung. Mungkin memang tidak perlu ada jawaban kapan rajutan persahabatan kami betul-betul terjalin. Karena ini adalah bukti bahwa persahabatan kami tulus, tidak memilih atau melihat latar belakang satu sama lain. Mengalir perlahan mengikuti aliran kehidupan. Menciptakan goresan indah, seperti geolyph yang terukir megah nan indah di dinding-dinding batu gurun oleh kebudayaan nasca di Peru Amerika selatan. Menyisakan sejarah yang patut tuk dipelajari.
Dia bukan sekedar seorang sahabat dia adalah seorang saudara. Banyak hal dan kegiatan yang kita lakukan bersama. Mulai dari kegiatan normal ala ala perempuan, sampai yang agak-agak gila. Tengah malam duduk di danau unhas berdua menikmati hembusan angin malam sambil curhatan adalah hal yang lumayan gila yang pernah kami lakukan menurutku. Saya sendiri, sumpah! Tidak tenang dan tdk menikmati malam itu. selama duduk di pinggiran danau saya terus saja merengek minta pulang, grasak- grusuk. Saya ketakutan jika tiba-tiba saja ada laki-laki iseng menggangu dan menjahati kami. Sedangkan si icha enjoy saja, dia malah menertawakan saya. Saat itu sedang diberlakukan jam malam di unhas, tuk men sweeping pasangan yang lagi pacaran. "kenapa juga saya takut ya? Kita kan gak ngapa2in dan kita gak lagi pacaran. Jiahahaha..."
Kami melewati hari-hari di kampus selalu bersama, cari bahan buat tugas, mengerjakan tugas, makan, nongkrong, ke mushollah selalu berdua. Tapi ketika kami memilih untuk memasuki kegiatan ekstrakulikuler, kami punya pilihan sendiri-sendiri. Dia yang ekstra supel, kelewat PD dan cerewet memilih menjadi penyiar di radio kampus ebs. Sedangkan saya memilih magang di koran kampus identitas.
Masih banyak yang ingin ku kisahkan tentang dia, tentang kami, walau kami hanya bersama selama 3 semester.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar