Bertepatan di hari jadi kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 65 tahun, saya berkesempatan mengunjungi kampung 'suku anak dalam' SAD di pedalaman sumatera selatan. Keinginan bertandang dan melihat-lihat kampung SAD sudah dari beberapa minggu yang lalu ku utarakan pada Bapak, namun baru pada hari libur Nasional ini kesempatan itu datang. Sekitar jam setengah satu siang, saya, ibu dan bapak berangkat diantar supir perusahaan yang sudah beberapa kali pernah datang ke kampung SAD. Pemukiman SAD tidak jauh dari tempat tugas bapak di perkebunan gunung bais estate, Desa Semangus, jaraknya kurang lebih 7 km. Melalui jalanan tanah tak berbatu namun bergelombang, berliku, melintasi jembatan di atas sungai Hitam yang warna airnya memang keruh hampir berwarna hitam, diantara perkebunan sawit, karet, lahan tak terurus, sampailah kami di pemukiman mereka.
Pemandangan pertama yang tertangkap adalah kehidupan yang sederhana. Anak-anak kecil bermain riang gembira tanpa alas kaki. Kedatangan kami dengan mobil jenis L 200 double cabin sontak menghamburkan kerumunan mereka. Saya dan ibu kemudian turun tuk menyapa. Saat ibu sedang asyik berbincang dengan salah satu guru yang ada di sana, saya menyempatkan diri memperhatikan sekitar. Hanya terdapat kurang dari sepuluh rumah penduduk. Rumah-rumah mereka terbuat dari susunan papan-papan yang beratapkan seng dan berlantaikan tanah tapi ada juga yang sudah berlantai semen seperti salah satu rumah yang ku masuki, sebuah gereja yang bangunan dindingnya terbuat dari batu bata dan semen yang dicat putih juga beratapkan seng. Terdapat juga sebuah sekolah dasar dengan dinding bercat putih dan atap bercat biru bagian pinggirnya.

Kehidupan mereka sudah sangat-sangat maju. Tidak seperti yang ku bayangkan bahwa mereka tidak mengenakan pakaian lengkap hanya penutup kemaluan, berumah panggung nan kecil atau hidup di atas pohon-pohon seperti yang pernah ku saksikan di media televisi dan menganut animisme. Dari bukti-bukti bangunan yang sudah ku jelaskan di atas jelaslah peradaban mereka. Mereka beragama dan anak-anaknya mengenyam pendidikan. Kepercayaan yang mereka anut adalah kristen. Agama ini dibawa oleh seorang pendeta yang datang dan pergi. Terakhir pendetanya bernama Alex Poncong berdarah jawa. Dia sedang tidak berada di tempat saat kami ke sana. Dia sedang pergi ke hutan mencari kayu tuk pembuatan langit-langit gereja yang belum sempurna seperti yang diutarankan seorang ibu yang menjadi guru anak-anak SAD saat berbincang, dia juga bersuku jawa. Sekitar tahun 1990-an islam pernah masuk ke kampung ini dan dianut mereka namun karena yang membawa ajaran islam meninggal, tak ada lagi yang meneruskan hingga datanglah pendeta membawa ajarannya dan sampai sekarang dianut SAD.
Lihat, mereka menonton televisi, menggunakan lampu. Listrik yang mereka gunakan berasal dari mesin genset.


Suku anak dalam tak lagi kubu atau terbelakang. Mereka tidak sepenuhnya orang rimba lagi, yang seluruh kebutuhan hidupnya ia gantungkan pada ketersediaan alam dan tak terhubung dengan dunia di luar hutan. Mereka bertransformasi sangat pesat, keluar hutan mengunjungi desa bahkan kota dan punya kendaraan. Para lelaki pergi berburu dengan mengendari sepeda motor, seperti yang saya jumpai ketika dalam perjalanan, laki-laki tanpa baju hanya celana pendek dan kain yang melilit dipinggang ciri khas pria suku kubu, menyandang 'keceppe' senapan panjang untuk berburu yang melintang di belakang pinggangnya. Walau mereka sudah punya kendaraan, tapi mereka tetap orang rimba yang tak tahu menahu soal peraturan berkendara, sehingga jika berpapasan dengan anak SAD yang sedang mengendarai sepeda motornya berhati-hatilah sebab mereka berjalan di tengah badan jalan. Pekerjaan mereka tetap berburu binatang, mencari kayu atau menebang pohon karet.
Para pendatang khususnya pembawa agama dan guru telah banyak mengubah kehidupan rimba mereka. Ini adalah pengamatan terluarku terhadap sebagian kecil SAD yang tersebar di sumatera selatan, khususnya yang saya kunjungi di desa Semangus. Lebih ke dalam masih banyak tersebar suku kubu yang masih mempertahankan kehidupan ala orang rimba. Meskipun kehidupan SAD Semangus sudah dapat dikatakan modern, namun mereka masih menyematkan istilah dan menganggap diri mereka Suku Anak Dalam.
Berkaitan dengan hari kemerdekaan, saat di sana saya tak menjumpai di rumah-rumah mereka ditancapkan tiang dengan bendera merah putih. Saya juga tidak menanyakan mengapa mereka tidak memasang bendera. Apa peduli saya? Saya tidak ingin men-judge mereka tidak nasionalis. Setidaknya mereka tau bahwa mereka bagian dari bangsa Indonesia terlihat dari nama gereja mereka 'Gereja Baptis Indonesia', walau belum tentu para pemimpin di negeri ini peduli dengan mereka.
Jadi, tidak penting mereka mengibarkan bendera atau tidak di hari yang memperingati kemerdekaan Indonesia 65 tahun lalu.
Yang jelas mereka hidup rukun, bisa makan dan melestarikan alam. Hahaha..terlalu beropini :D

Notes: photo-photo dokumentasi menyusul :)
2 komentar:
bagus tulisannya. goodjob dear :D
wuah... Terlalu memuji. Tidak mendalam tulisanx.
sbentar skaliji d sana, pdhal sy mau blama2 dan lbh msk k dlm tp supirnya nda mau antar, hiks.. :(
Posting Komentar