...Dream and Action...

...dream and action...

Minggu, 10 Oktober 2010

Ibu Berkisah

Peluru melewati udara di atas kepalaku. Persis 1 cm di atas rambutku yang hitam lebat dan ku kepang satu. Aku berlari di antara rerumputan, semak setinggi badan ku dan pepohonan yang menjulang ke langit sore di hutan Lappariaja. Di atas gunung ini aku bersembunyi bersama adikku yang masih berusia 1 tahun, ibuku, dan ayahku tentu saja beserta pasukan gerilya lainnya juga dengan keluarga mereka. Aku yang baru menginjak usia 5 tahun mengingat jelas peristiwa mencekam di tahun 1965 kala itu.

Aku selalu menanti kepulangan ayahku. Aku selalu tau jika ia akan datang dari kejauhan. Tuhan menganugerahkan 'feeling' yang kuat padaku semacam ikatan bathin yang mendalam yang terbangun antara aku dan ayah. Mungkin karena aku selalu merindukannya dan selalu berharap dia pulang, tanpa ku sadari sebenarnya setiap hari aku menunggunya. Aku akan berdiri di pinggir jalan di depan rumah panggung yang sederhana. Rumah panggung khas Sulawesi selatan. Aku akan menjemput dan menyambutnya dengan perasaan riang gembira, berdiri dengan gelisah, sesekali berjongkok sambil membuat goresesan di tanah menggunakan jari mungilku dan berdiri lagi, hingga perlahan bayangan dan tubuhnya mencuat dari kejauhan, tampak kecil hingga akhirnya membesar dan terciumlah aroma tubuhnya yang berpeluh perjuangan. Jika merasa tak sabar karena ayah yang tak kunjung sampai di hadapanku maka aku akan berlari menyongsongnya kemudian memeluk salah satu pahanya yang sangat kuat, dan dia akan mengangkatku tuk menggendong diriku.

Ayah akan pulang ke rumah jika kondisi di hutan sedang aman. Ia datang untuk menjenguk dan memastikan apakah kami baik-baik saja? Secara tak langsung kami pun senang dan bersyukur karena kehadirannya membuktikan ia masih selamat. Satu waktu ayah pernah pulang dalam kondisi yang membuatku menangis, berlinangan air mata tak henti-hentinya. Ayah datang ditandu oleh dua orang kawan seperjuangannya, darah menembus celananya hampir meresapi seluruh kain. Ia terkena tembakan musuh. Peluru menembus bokongnya. Aku yang baru kali pertama menyaksikan ayah berceceran darah terus terisak tak mampu ku bendung. Aku mengira ayah akan meninggalkanku selamanya. Untungnya ayah memiliki keahlian dasar medis sehingga ia bisa mengeluarkan peluru dan mengobati lukanya sendiri dibantu oleh kawannya dan ibu.
Ayah masih diberi umur panjang.

Kami hidup berpindah-pindah di seluruh kawasan pedalaman Bone sampai Barru. Tinggal di desa-desa yang tak jauh dari hutan tempat ayah bermarkas. Ayahku adalah seorang tentara gerilya. Ia bergabung dengan pasukan yang dipanglimai oleh tokoh yang bernama Kahar Muzakar. Kelompok Kahar Muzakar yang diresmikan pada tahun 1953, merupakan bagian dari kelompok gerilyawan yang berasal dari Jawa Barat yang dipimpin Kartosuwiryo yang bernama DI/TII. Darul islam, tentara Indonesia atau DI/TII merupakan kesatuan yang dibentuk dengan tujuan mendirikan negara islam yang berlandaskan hukum islam, sehingga aksi gerilya ini adalah aksi pemberontakan melawan pemerintahan Indonesia yang baru saja merdeka,menuntut dibentuknya darul islam atau negara islam.Ayah menjadi pengawal Kahar Muzakkar yang kecewa dan tidak puas dengan pemerintah, sembunyi di hutan-hutan dan di atas gunung. Kelompok ini berlawanan langsung dengan ABRI karena dianggap pengacau.

Tahun 1965, saat keadaan semakin genting, para gerilyawan semakin digencet, aku, ibu dan adik laki-lakiku satu-satunya terpaksa harus lari dari desa dan ikut bersembunyi di gunung bersama ayah dan kawan-kawan gerilayanya. Pasukan TNI sedang mengadakan operasi yang diberi nama operasi Tumpas, bertujuan melumpuhkan aksi para pemberontak, salah satunya dengan menangkapi semua orang-orang yang dicurigai anggota gerilyawan, keluarga gerilyawan atau yang diketahui mengetahui keberadaan anggota DI/TII.
***
Ibu selalu terkenang akan kisahnya yang penuh petualangan, pergolakan dan rasa haru kala bersembunyi di hutan. Ibu pasti kerap menitikkan air mata jika sedang mengisahkan hidupnya. Ibu teringat ketika dia sedang asyik bermain di pinggir sungai di dalam hutan, tiba-tiba suara peluru menggelegar di udara. Kaget, takut, ibu berlari kembali ke arah tenda tempat berlindung selama di hutan bersama keluarga, yang tak jauh dari tempat ia bermain. Saat ibu sedang berlari ia merasakan peluru melintas di atas kepalanya. Suara peluru itu berasal dari tembakan tentara Indonesia yang mengetahui tempat persembunyian para prajurit DI/TII. Keberadaan markas mereka tercium TNI. Tidak tinggal diam, ayahnya ibu yang merupakan komandan segera menyerukan anak buahnya melakukan tembakan balasan. Perang saling tembak pecah. Ibu tidak begitu jelas mengingat apa yang terjadi selanjutnya, yang pasti ia dan keluarga lainnya telah berlindung. Tapi ibu kembali meneteskan air mata ketika mengingat pada waktu itu adiknya terkena tembakan di lengan hampir bahu sebelah kanan. Adiknya terkena peluru.

Ibu penuh rasa haru namun juga kadang tertawa sambil menceritakan masa kecilnya yang hidup berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain. Mengharapkan belas kasihan penduduk setempat agar diberi bantuan makanan berupa beras. Kadang harus memaksa jika ada penduduk yang enggan memberikan beras. Namun tak sedikit yang mengerti bahwa mereka adalah keluarga pejuang 'pemberontak', sehingga dengan senang hati memberi bantuan.

Masa kecil yang berusaha ku masukkan dalam alam imajinasiku.
Ibu berkisah dan akan terus berkisah. Dan saya akan mendengarkan.

Tidak ada komentar: